Six months with Airin 😘

Assalamualaikum..

long time no blog…

long time no see…

Hari ini Alhamdulillah saya berkesempatan untuk menulis (sok sibuk banget deh) progress kulit wajah saya sejak menggunakan airin skincare enam bulan lalu…ya…walaupun nulisnya mau nggak mau via hape tercinta karena komputernya belum di-set lagi setelah diboyong mudik oleh Pak Suami gegara hobi nge-game-nya 😑.

Well, i would like to apologize in advance since this post has no picture of before and after using airin skincare. Soalnya foto before nya ada di hape saya yang dulu and it’s been completely broken, belum sempet nge-service karena Serang-roxy Jakarta jauh lah lumayan ya bikin males nyetir 😅 (Eciye…sekarang udah pindah ke Serang loh). Di serang nggak ada service centre untuk sony xperia z3, kata si Bapak-bapak yang ada di sony service centre yang di Cilegon, we need to go to Jakarta to fix it. Yah, malesin ah.

Aduh, maaf melantur!

Boleh dimulai ya cerita tentang progress kulit wajah saya.

Bulan 1.

Dari bulan pertama saya ketagihan untuk treatment di tempat! Aseli! Enak banget! Maka dari itu saya selalu berusaha supaya bisa dateng langsung ke Kopo Bandung untuk bisa konsultasi secara langsung plus biar bisa treatment.

Cream dan segala tetek bengek lainnya sudah saya post ya sebelumnya di sini.

Bulan pertama ini, ya..namanya juga bukan sulap bukan sihir…kulit wajah saya nggak langsung kinclong dan jerawat mendadak hilang. Tapi di bulan ini minyak saya mulai terkontrol. Masih berminyak, ya tahu diri aja saya mah lah yah namanya juga oily skin, pasti tetep minyakan, tapi terkontrol! Alhamdulillah! Wajah saya juga mulai nggak kusam lagi. Di bold ya: baru “mulai” belum nggak kusam sepenuhnya. Terus jerawatnya piye? Alhamdulillah, belum hilang sepenuhnya! Baru sedikit-sedikit.

Bulan kedua sebenarnya nggak jauh beda progress nya dengan bulan pertama. Tapi di bulan ini saya dapat tambahan cream wajah seperti cream pori untuk pori-pori saya yang bikin sedih gedenya and serum whitening acne untuk menghilangkan bekas jerawat (this serum has been so great! Ada satu bekas jerawat yang cukup besar saat saya belum menggunakan airin perlahan-lahan hilang seiring berjalannya waktu saya menggunakannya) plus i got cream vit c acne yang di-apply saat pagi sebelum penggunaan sunblock free oily.

Bulan ketiga sampai sekarang. Selama di Serang saya belum sempat lagi untuk datang langsung ke airin kopo atau antapani Bandung. Sebenarnya nggak jauh beda progressnya sama: minyak yang terkontrol tapi kulit sudah nggak kusam lagi dan people start to notice about it. Saudara dan kerabat (apalagi Pak Suami mah) mulai melihat sendiri bahwa wajah saya Alhamdulillah sudah nggak kusam lagi, lebih cerah (most of them mikirnya kalau saya lebih putih, but i guess it’s not it, tapi lebih cerah dan tidak kusam, bukan putih), wajah enggak kemerah-merahan especially jerawat yang kemerahan udah engga lagi, jerawat pun datang di momen tertentu seperti when i get my period, ketiduran nggak cuci muka, momotoran nggak pake masker, kebanyakan minum kopi, kebanyakan makan makanan berlemak, dan hal lainnya yang bikin kulit acne prone saya ini jerawatan. Here’s the thing: kita harus cukup tahu diri kalau kulit kita ini acne prone alias mudah berjerawat! Yang mau digimanain pun susah untuk total nggak punya jerawat seumur hidup kita but at least kita bisa mencoba untuk merawat supaya wajah kita nggak terlalu (naoh atuh bahasa indonesia na?) rumeuk (👈 Nggak tahu bahasa indonesia na rumeuk teh apah).

ini sebenernyah sambil nulis sambil ngorek-ngorek album di setiap gadget, kali-kali aja ada foto sebelum saya menggunakan airin. Berharap nemu biar langsung cus di -post.

Alhamdulillah! Ketemu! Pic beforenya!

image

Before – Sisi kanan

 

image

Before – sisi kiri

Btw, itu yang saya cover biar konsen ke kulit wajah yang masih berjerawat and itu ada aurat yang saya tutup plus itu ada pose saya lagi merem-melek-mangap nggak kobe (kontrol beunget, bahasa sunda deui) karena hasil cekrek-an anak saya, Ikia 😅.

Bisa diperhatikan baik-baik…coba…silahkan perhatikan…tapi jangan sampai baper 😁😋. Huaaah…kusem banget ya…🙈. And merah-merah terutama jerawatnya, haduh…ampun. Btw, coba lihat di sisi kanan ada bekas jerawat lumayan gede. Itu ALhamdulillah berangsur-angsur hilang selama enam bulan ini. Bisa dilihat di foto afternya.

Nah, sekarang kita lihat foto after-nya yah 😁

image

After-Latest Picture

Foto after ini saya ambil tanggal 09 Juli 2016 kemarin waktu acara lamaran kakak ipar saya, pardon the poor light since i took the pict at night ✌️.

Sudah enam bulan ya. Nggak terasa. Alhamdulillah…sekarang tinggal konsen sama bekas-bekas jerawat yang dulu and some little acne scars. Kalau nggak salah sudah ada serum scar untuk bopeng-bopeng bekas jerawat, walau wajah saya nggak bopeng-bopeng amat (Alhamdulillah) but i’m so interested about it. Mau pakai tapi mau konsul secara langsung dulu. Biar dichecki-checki dulu supaya lebih yakin 😁.

My skin isn’t that flawless. Nggak terlalu berharap supaya punya kulit wajah seperti artis korea semacam Park Shin Hye atau Song Hye Kyo. Sadar diri saya mah. Tapi belajar and berusaha supaya punya kulit wajah lebih sehat terawat isn’t a crime, is it?

Menghargai ciptaan Allah, menghargai diri sendiri, menghargai rejeki hasil kerja suami #eh, dan menyenangkan suami. Dan sekarang bertambahlah way of having mood booster: perawatan yang ada result-nya walaupun nggak langsung kinclong.

Merawat kulit wajah yang oily, acne prone, sensitive, plus big pore itu harus suabar! Coba ini coba itu tapi coba-cobanya harus pakai perhitungan juga biar nggak terjebak cream abal-abal…hiih…lagi marak banget ya sekarang.

Oiya, sebenernya pengen banget cerita setiap detailnya, per-bulannya, tapi saya emak-emak banyak nginem…abis nginem terbitlah males nge-blog 😭😂.

[edited version, updated]

Iseng-iseng nyari foto terbaru progress, ternyata ada. Ini dia.

image

2 Juli 2016

Semua foto enggak menggunakan filter mencerahkan atau lainnya…cuma stamps line untuk meng-cover aurat. Bisa dilihat di sisi kanan, bekas jerawat yang gede dulu sudah gone…horeeee Alhamdulillah. Nah, mudah-mudahan menjawab keingintahuan kalian yang mau coba airin skincare. Langsung aja ke Kopo atau Antapani or lihat di IG nya airin contact numbernya. Hati-hati juga ya…soalnya ada airin skincare yang lain kalau nggak salah…entah dari awalnya begitu atau karena doi adalah oknum tertentu yang melihat airin skincare/beautycare lagi nge-hitz bingit and ingin melakukan hal yang enggak-enggak. Intinya, hati-hati dalam memilih produk wajah.

Sudah dulu yah!

Wassalamualaikum 😊

Adios!

The Cruel Thing Called ‘Victim Playing’

Beberapa pengalaman terdahulu ternyata sudah ada yang menuangkannya dalam bentuk kata-kata indah terlebih dahulu.
Selalu suka dengan tulisan dalam blog ini, entah itu inspiring, opening my point if view, or i just enjoy it anyway 😊.
One thing i assure you, jika memang kita didzolimi seperti ini, berdoa saja untuk kebaikan diri kita, berdoa meminta banyak hal, karena bukankah doa orang yang didzolimi itu langsung diijabah?
Rasanya sakit dan serasa dipermalukan ketika kita seperti dijadikan pihak yang salah padahal yang playing victim yang cari masalah.
Tapi sekarang saya ucapkan terima kasih sudah membuka peluang doa saya terkabul sebesar-besarnya berkat fitnah anda.
Terima kasih sudah bertindak jahat dan fitnah, untuk anda yang dulu playing victim dan memfitnah saya kemana-mana 😊.
P.S: tetap, rasanya sakit saat itu. Semoga kita nggak harus “hitung2an” lagi diakherat kelak. Semoga saya sudah ikhlas (karena saat ini saya masih belum tahu saya sudah ikhlas atau belum walau saya amat berterima kasih).

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

some people

“There are some people who love to create a storm of problems, and then when these problems start to rain down on them, they become upset and try to place blame everywhere else but refuse to take blame for their own actions or willful ignorance.” ~Unknown

Under my point of view…

Orang yang berbuat salah, menzhalimi orang lain kemudian playing as victim dan mencari dukungan dengan menghasut orang lain agar berpihak pada dirinya…

Itu jahat pake banget.

View original post 568 more words

image

Picture Source: 123rf.com

Jika suatu kali pertahanan istrimu tengah porak-poranda secara lahir dan batin kemudian memintamu untuk memulangkannya kepada kedua orang tuanya, katakanlah bahwa kalian telah menikah..bahwa kau telah mengambil istrimu dari kedua orang tuanya secara hukum syar’i dengan restu mereka..bahwa tempatnya pulang adalah dirimu sebagai suaminya..bahwa kau selalu menyiapkan ruangan di hati dan pikiranmu untuk menyambut perih yang tak mampu dia ucap, sakit yang tak sanggup dia bendung, pilu yang tak kuat dia tahan meski itu semua lahir dari perannya sebagai istrimu..mintalah selalu kesediannya untuk belajar bersama menjadi suami-istri sampai maut memisahkan.

🌸 dsn 🌸

Dark chapter

tumblr_o362uq6oEh1undtvqo1_1280

Picture source: poemsandwords.com

When it seems okay for you, doesn’t mean it really is okay. When he/she looks well, doesn’t mean less tears and broken heart.

Some people just keep it themself. Some people just cry by themself. Some people just read their pain in silence. Some people don’t share their dark chapter.

Yes, some people through bad things that we don’t know.

 

 

It’s been a year in Jakarta

image

Di Jakarta, tol aja macet ya 😭

Long time no blog…
Maklum, saya emak-emak (sok) sibuk 😁, boro-boro nge-blog, uda capek duluan mah yah dibawa syare sajah 😅.
Eciyeee,
Tittle-nya lebay banget, tapi setahun tinggal di Jakarta banyak ceritanya, penuh suka-dukanya (dukanya apalagi sih kalo nggak deg-degan melewati hari dengan ke-bokek-an 😂😂😂 deg-degan kira-kira kami ini masih bisa hidup nggak sampai gajian tiba 😅😅😅).
Nggak terasa, saya sudah setahun hidup di Jakarta, yang awalnya serasa horor banget mau tinggal di ibu kota. Kebiasaan adem hidup di Bandung bikin saya nga-dekdek (naon atuh nyak bahasa indonesia na nga dekdek?!) mau tinggal di Jakarta.
Dulu sebelum cul mindahin barang dan body ke Jakarta, saya dan pak suami pergi ke area cipayung-cilangkap-ceger jakarta timur untuk cari rumah kontrakan. Duh, mak! Waktu itu susah banget rasanya dapet rumah kontrakan satuan kalaupun ada di cluster dan mahal, nemu yang murah eh nggak jodoh karena ketemunya pas uda tinggal di salah satu kontrakan petakan. Eh, tapi jangan salah, rumah petakan di area sini kece-kece dan nggak kumuh. Tenant-nya juga kece-kece *apasih*, di sejajaran area parkir mobil aja, mobil saya yang brandnya paling biasa 😅😅 (tapi kitu-kitu oge Alhamdulillah tauk nggak kehujanan dan kepanasan 😊).
Awal-awal pindah hal pertama yang membuat saya syok adalah perihal listrik, yang biasanya di Bandung ngisi token listrik sebulan antara Rp 50.000-100.000 itu pun kadang masih sisa banyak sebelum akhir bulan, dua bulan pertama di Jakarta konsumsi listrik saya sampai Rp 700.000 😱. Orang yang biasa di Bandung kedinginan *plus alergi dingin* dan nggak pakai AC, di Jakarta keringat ngucur terus kalau nggak nyalain AC. Bulan-bulan selanjutnya saya mulai pintar cara menghemat listrik yang Alhamdulillah sekarang konsumsi listrik untuk sebulan cuma Rp 300.000-500.000, ya…lumayanlah ya lebih hemat 😁.
Hal kedua yang membuat saya bingung adalah: walaupun jarak Jakarta-Bandung sekarang dekat dan tidak sejauh Bandung-Ambon, tapi tukang sayur di sini nggak tahu cabe gendot dan saya belum nemu cabe gendot di sini 😱😭. Pertama kali ke warung sayur dan bilang saya mau beli cabe gendot, si mpoknya bengong lalu bilang, “cabe apaan tuh?! Kagak ade mpok!”. Akhirnya, kalau tiap pulang kampung ke Bandung saya bawa cabe gendot and cabe merah besar plus tahu cibuntu bandung karena tukang sayur rata-rata hanya punya cabe merah keriting, kalau mau cabe merah besar and tahu bandung ya ke supermarket, lumayan…dibeliin emak saya and gratis kalau bawa dari bandung 😁😝. Oiya, lidah kami nggak cucok sama tahu yang ada di pasaran Jakarta, cuma bisa makan tahu Bandung 😁.
Hal lain yang berbeda adalah: rata-rata orang sini mah tetanggan terus saling ketemuan teh cuek ajah, nggak saling sapa. Pas pertama kali, saya papasan sama tetangga terus saya senyumin, dan eh dia cuek aja dan buang muka 😭😭 saya patah hati seketika. Biasanya di Bandung mah pa senyum-senyum walau nggak kenal. Emangnya siapa yang saya senyumin? Ya perempuan lah… Kalau sama laki-laki mah saya nunduk aja bisi laki-lakinya jatuh cinta sama saya…hehe…nggak ding 😅 ya nunduk ajah atuh dah bukan mahram saya ngapain saya lihat, bukan lee min ho atau hyun bin jugaan 😅.
Soal macet? Ah, biasa… Karena di Bandung juga sudah mulai sering macet di mana-mana. Tapi heran juga sih jalan tol Jakarta kok sering macet?!
And, living in Jakarta makes me more adventurous, maksudnya banyak jalan ke sana ke mari 😅. Dulu waktu di Bandung saya nggak ke mana-mana, literally, seriously! Saya adalah katak dalam tempurung. Kalau pun pergi ya cuma ke tempat itu-itu saja atau yang dekat-dekat saja. Karena suami ada di Bandung hanya hari sabtu-minggu (sisanya kerja di Jakarta), dan di dua hari itu satu hari kami habiskan bersama orang tua suami alias mertua saya 😄. Satu harinya lagi kalau nggak capek baru deh kita jalan-jalan tapi ya…cukup yang dekat saja, kalau suami saya capek dan perlu banyak istirahat supaya besok pas kerja ke Jakarta nya berenergi…ya stay at home aja 😄.
Tinggal di ibu kota sini, saya pergi ke banyak tempat yang tidak harus mall. Banyak pilihan: kebun binatang ragunan (sorry to say, but this zoo is much better than the zoo in Bandung), ancol, tmii, lubang buaya, dsb. Mall di Jakarta pun bervariasi ya (ya, katro saya mah baru tahu), bagus-bagus…tampilan menawan membuat saya enggan untuk step in some stores karena saya pikir pasti mahal, padahal mah ternyata sama ajah dan malah ada beberapa yang lebih murah dari yang di Bandung. Yang awalnya saya sempat homesick sama Bandung, lama-lama…eh asik juga hidup di Jakarta 😆.
Salah satu hal yang nggak enak di sini adalah: ke tukang sayur nggak bisa beli cuma 500 perak 😂. Di Bandung mah bisa…pas kita butuh beberapa jenis sayur atau bumbu dapur tapi perlunya cuma sedikit, di tempat saya tinggal mah nggak bisa beli cuma 500 perak, minimal 2000an 😅 barijeung teu kaanggo sadayana 😅😁 dan kadang jadi mubazir 😢.
Salah satu hal yang menurut saya lucu adalah: waktu di Bandung, orang minjem duit ke saya paling banter juga 100.000-500.000 tapi di sini orang mau minjam uang dari 5.000.000-20.000.0000 😱😧. Buhset! Dikira dia, saya orang kaya kali ya…tapi Aamiin 😄. Mudah-mudahan jadi orang kaya dunia akherat, Aamiin 😊.
Yah, setiap hal ada plus minus nya. What we have to do is just deal with it.
Alhamdulillah sampai hari ini masih diberi banyak nikmat sama Allah.
Bersyukur…
Walau nggak mengeluh ke orang membuat orang-orang berpikir kita hidup tanpa masalah (😄😂 pengalaman banget ini mah, karena nggak banyak mengeluh ini-itu tentang hidup, saya jadi dikira orang tanpa masalah).
Bersyukur.
Reminder untuk diri saya sendiri sebenarnya, biar nggak kufur nikmat 😊.
Sekarang lagi deg-degan lagi, mau ke mana lagi kita? Tetap di sini atau ke daerah lain?
We’ll see 😊

Adios!

To kidzania we go!

Assalamualaikum…

Alhamdulillah hari minggu tanggal 13 maret kemarin saya dan Kia berkesempatan untuk pergi ke kidzania (kesempatan dalam kesempitan sih, papah Kia lembur ke kantornya dan kami di-drop ke sini – semacam penebus rasa berdosa dan bersalah karena hari minggu kok gawe kali ya, haha–.

Okay, sepengetahuan saya (at least untuk sabtu-minggu) satu hari dibagi menjadi dua sesi (I dunno ya kalau week days-nya kayak gimana). Kami ikut sesi kedua, we arrived 02.40 pm and it all started at 3 pm.

Dengan kikuk dan katronya saya antre (wkwkwkwk…sempat bingung soalnya, tempat kita beli tiketnya diset seperti bandara saat kita mau boarding…ya gimana nggak dalam hati saya bingung sendiri “ini tiket kidzania atau mau beli tiket garuda di sini ya?”). Ketawan deh katronya dan sempat blah-bloh saat si mas-mas di booth ticket-nya menjelaskan tentang kidzos (kidzania currency) dan hal lainnya lalu bertanya, “pertama kali ke sini ya?”. I think it was written on my face, all over it.

IMG_0366

the ticket

Kemudian kami masuk dengan a la-a la bandara lagi (atau memang pengawasannya ketat ya?!). Itu lho,  adegan di mana tas berisi barang bawaan kita di guluntungin *aduh naon atuh bahasa Indonesia na diguluntungin* ke airport scanner or airport x-ray or whatever that name is. Done! Ambil tas lalu masuk dan masih gelap—lebay bahasanya, remang-remang sih– karena belum mulai.  Sambil menunggu kami (baca: Ikia) foto-foto dulu meskipun pencahayaannya kurang (ya iyalah wong belum start) tapi emaknya tetep aja maksa fotoan. Lalu cek yang kami terima di ticket booth Kia cairkan di bank BRI kidzania (nggak sempat difoto cek-nya) dan entah berapa uang yang Kia terima karena nggak kami hitung sebelumnya. Oiya, jangan lupa bawa dompet or tas selempang kecil just to carry your kids’ money biar nggak rempong. Nah, karena this was our first time dan daripada kia repot pegang-pegang uang (karena tangan emak Kia sudah repot pegang hape untuk jeprat-jepret), jadinya kami membeli tempat uang untuk Kia dengan harga rp 45.000,00. Dasar ya, orang jualan, yang kayak begitu mahal amat! *mulai keliatan pelitnya*.

 

IMG_0367

ini loh dompet kecil yang harganya 45ribu..hahaha

IMG_0368

kidzos, kidzania currency

Jam 3 tiba dan dimulailah semuanya. Di awali dengan tarian sambutan (Kia tutup kuping, berisik katanya). Lalu yang pertama Kia coba oles-oles roti dan dibentuk sesuai keinginan. Karena pertama, Kia tegang amat, kikuk, malu-malu sekali, pendiam sekali!

IMG_0376

awal-awal tegang, kikuk, dan malu-malu

Lalu hal kedua yang Kia coba adalah jadi penumpang bus dengan harga 5 kidzos, ih mahal banget – menurut saya, hahaha. Mulai enjoy and relax, it was seen on her face.

IMG_0370.JPG

mau ke mana ya kita? to the fire fighter dept?

And then sit on a line for being a fire fighter. It seemed like it was one of her favourite activities. Pakai seragam, naik kendaraan pemadam kebakaran, semprot-semprot air ke arah rumah yang kebakaran (which means main air), naik lagi ke kendaraan dan sampailah di posko. Mission accomplished. Nyengar-nyengir sendiri, “asik mah! Aku suka!”.

IMG_0377.JPG

memang paling happy main air

Yang keempat adalah pergi ke indomaret. Karena Kia baru 5 tahun, dia cuma jadi pembeli. Dengan happy Kia belanja. Kalau dibandingkan dengan hasil belanjaan anak lainnya, banyak sekali yang dia ambil. Anak yang lain hanya mengambil satu-dua barang, Kia sampai empat. Saat antre untuk bayar, dengan gaya berbisik Kia bilang, “mah…ini mah belanja boongan…bukan jajan ya mah (maksudnya, emaknya nggak bisa nitip jajan)”.

IMG_0374.JPG

nunjuk-nunjuk nggak mau difoto

Dari indomaret Kia berlari semangat ke hospital. Inginnya jadi dokter, tapi apa daya, perannya diundi dan Kia dapat jadi pasien. Awalnya Kia agak kecewa tapi lama-kelamaan Kia enjoy juga. Apalagi sehabis dari ruang pemeriksaan, Kia naik mobil ambulance (waktu itu nggak semua yang jadi dokter-pasien bias naik ambulance keliling kidzania, kadang dikendarai kadang nggak).

IMG_0372.JPG

cita-cita: jadi dokter

Nah, sehabis jadi pasien Kia mencoba kerja di depository and security service. Entahlah si om-nya ini memberi penjelasan apa, padahal emaknya kepo tapi da teuing kumaha teu kadangu. Ambil uang di indomaret menggunakan mobil khusus depository and security service dengan gaya sok cool lalu balik lagi ke kantor untuk menyimpan uang di loker besar. And done!

IMG_0378.JPG

ngelihat ini malah jadi ingat CSI, NCIS, dan semacamnya

Capek kerja, Kia menghibur diri nonton Alice in a wonderland tapi agak telat, pertunjukannya sudah mulai dari tadi dan penontonnya sedikit. Agak sepi sih ya…cuma beberapa yang nonton. Padahal lumayan menghibur loh…lucu…kami berdua ketawa-ketawa.

IMG_0382.JPG

lagi sepi padahal lucu lho

Yang ini membuat cokelat sendiri tapi karena masih kecil (atau biar cepat??) Kia jadi banyak dibantu. Mbak-nya ini uda capek banget kali ya…mukanya sudah muka capek dan agak bete. Ah, saya mah maklum sajalah. Berarti lain kali mah sesi pertama saja, hehe.

IMG_0380.JPG

favoritnya: cokelat!

Selesai membuat cokelat sendiri, Kia beralih membuat wafer sendiri. Di sini si mbaknya masih memberi muka fresh dan senyum yang lebar sekali walau terlihat lelah. Dengan sabar,Kia diberi kesempatan melakukan banyak hal, cuma dibantu sedikit, nggak seperti waktu membuat cokelat. Keluar dari ruangan wafer tango ini, Kia bilang, “aku kerja banyak-banyak bantu papah dapat uang”, sambil memasukkan uang hasil keringatnya ke dompet kecilnya. Disitu emaknya menahan ketawa berusaha tetap anggun dengan bilang, “hebat ya Kia”.

IMG_0379.JPG

yang biasanya nggak makan wafer, hasil keringat sendiri mah dilahap

How about making noodle?? Sambil menunggu giliran, Kia memakan wafer hasil karyanya, yang biasanya dia nggak begitu doyan wafer tapi ini lahap banget makannya. Akhirnya, giliran Kia! It seemed like Kia diberi penjelasan tentang pembuatan mie (sotoy emaknya), lalu Kia main-main dengan adonan (ini mah hobinya dia), di tepuk-tepuk, memakai roller, dan mencetak mie. Happy amat ini anak. Setelah itu, si mie hasil ‘karya’ kia dimasukkan ke alat produksi untuk diproses –yang ceritanya proses produksi panjang– maka keluarlah indomie untuk anak-anak rasa cheese (yang ujung-ujungnya  nanti dimakan emaknya) pilihan Kia.

UQKW9420.jpg

“aku bikin mie aku sendiri mah”. hehehe, dasar anak-anak

Singing? Ceritanya Kia kerja jadi penyanyi, menyanyikan lagu kebangsaan anak-anak perempuan sejagat raya: let it go. Andai kerja se-piece of cake begini ya…emaknya juga mau lah. but I didn’t take any picture, saya cuma sempat merekam beberapa detik (salah soalnya, saya kira saya sudah merekam tapi ternyata belum).

Sambil menunggu giliran di bagian salon, kia main dulu di perpustakaan. Asik! Dibayar nggak kalah mahal pula! 20 kidzos loh.

IMG_0386.JPG

cuma kefoto pas main semacam puzzle

Akhirnya…setelah lelah membanting tulang membantu papah yang suka lembur, Kia nyalon juga. Santai-santai sedikit. Sisir-sisir dikit rambutnya. Ditempeli sesuatu jarinya dan diberi glitter di bagian samping  mata.

IMG_0381.JPG

santai dulu yah

Niatnya, sehabis nyalon mau kerja lagi di teh pucuk harum, tapi sudah 7.30 pm (setengah jam lagi tutup) dan sudah tutup sesinya. Sesi terakhir sedang berlangsung. Ah, keciwi lah anak gadis. Dengan berbagai jurus saya memberi tahu Kia, in sya Allah nanti kita ke sini lagi. Mudah-mudahan ada rejeki nya lagi. Dan sembari menuju jalan keluar, kami mampir dulu ke tempat foto-foto dicetak. Niatnya sih emaknya Kia ini mau mencetak foto Kia yang jadi fire fighter yang dijepret sama mas-mas fotografer. Cetak satu foto Rp. 90.000,00 dan kalau cetak 4 pieces, satuannya bisa lebih murah Rp. 67.500,00. Ah, saya cuma mau cetak satu aja, pikir saya. Tapi Kia sudah mau pulang. Sudah agak-agak sedih karena sudah mau tutup. Ya sudahlah. Kau menyelamatkan emakmu dari mengeluarkan uang 90rebu, naaak. Maka off we go-lah kita pulang. wkwkwkw.

Sambil turun ke bawah sambil jalan-jalan, lihat-lihat, took some pictures in front of some stores such as prada and LV . Wkwkwkwk.

IMG_0388.JPG

kapan-kapan beli ya, in sya Allah. hehehe.

Being at kidzania was so much fun. Edukatif pula. Kidzania juga disebutkan di buku parenting Ayah Edy untuk memperkenalkan berbagai macam profesi dan melihat minat anak. Mengajarkan anak kita untuk sabar, sabar antre dan sabar menunggu. Untuk taat peraturan,  taat untuk mengantre dan taat mengikuti instruksi juga taat waktu. Kia belajar untuk lebih percaya diri (karena Kia ini kalau di luar rumah pemalu banget dan sulit jauh dari emaknya, kelihatan kan pas pertama kali mencoba satu aktifitas—yang mengoles dan membentuk roti tawar—tegang dan malu-malu). Saya-nya juga belajar untuk percaya sama Kia. Bahwa Kia bisa kok. Nggak harus apa-apa saya temenin. Dan nggak harus apa-apa saya ikutan. Kia jadi lebih mengerti kalau papahnya kerja lembur. Lebih tahu nilai uang, jadi lebih mengerti semua barang yang dia punya ada nilainya. Barang yang dia punya itu dibeli dengan uang hasil dari papahnya kerja, rejeki dari Allah. Makanya, Kia harus bisa menghargai dan menjaga baik-baik barang yang Kia punya. Penjelasan saya ke Kia yang dulu panjang lebar bisa terbantu dan teraplikasikan di kidzania.

Anak gadis ketagihan. hahaha…dari 3 pm- 7.30 pm ternyata belum semuanya terjelajah. yang available untuk umur Kia, masih ada beberapa yang belum Kia coba seperti jadi dokter gigi, membuat teh, acting, penyiar radio, dan masih banyak lagi.

Mudah-mudahan nanti ada rezeki lagi untuk ke sana ya, Kia. Aamiin.

 

 

 

Saya hanya manusia biasa kok

Suatu kali ibu salah satu teman Kia bercerita tentang pengalaman keluarganya ketika melintasi tol cipularang. Sang suami banting setir ke kiri secara tiba-tiba dan membuat ibu teman Kia bertanya-tanya kenapa sih tiba-tiba banting setir, kan bahaya. Namun sang suami menjawab bahwa tadi ada seorang ibu-ibu di jalan, membuat suaminya wondering ngapain hari hujan begini berdiri di tol. Padahal sepenglihatan ibu teman Kia ini, nggak ada apa-apa! Nggak ada orang! Nggak ada ibu-ibu! Kalau pun iya, pasti mobil depan akan lebih dulu banting setir ke kiri.

Nah, kurang lebih dua minggu lalu keluarga kecil saya memutuskan untuk ke Bandung. Pulang dari kerja lembur (baca: rodi) kurang lebih pukul 12 malam kami berangkat. Kemudian di tol cipularang saya melihat dua orang berada di pembatas jalur (bener nggak sih?). Satu orang duduk di pembatas dengan pose melamun dan satu orang lainnya tidur di jalan (di samping pembatas jalur itu loh… Yang kalau kita nyetir itu ada di sebelah kanan kita). Melihat hal itu saya teringat cerita ibu teman Kia (tapi saya mikirnya masih lempeng aja). Saya menceritakan kejadian yang di alami ibu teman Kia itu supaya papah Kia lebih hati-hati lagi kalau di tol, saya tidak memikirkan hal gaib atau semacamnya. Saya malah mikir, ngapain nongkrong and tidur di tol? Nyelakain orang. Di awal obrolan saya bilang, “oiya, lihat ada orang di tol jadi inget cerita bubu A****…”. Kemudian saya ceritakanlah semua.

Tapi apa coba? Papah Kia bilang nggak ada orang di jalan.

😑

Saya keukeuh bilang ada. Papah Kia keukeuh bilang nggak ada, kalau pun ada kan pasti dia juga lihat.

Akhirnya saya  diam dan mikir, iya juga sih. Orang waras mana coba yang nongkrong dan tidur di tol? Tempat di mana mobil lalu lalang plus berkecepatan tinggi. Sama papah Kia saya nggak bilang saya lihat dua (hahaha, bisi sieun).

Sebenarnya kejadian seperti ini nggak cuma sekali dua kali. Saya nggak ngerti juga kenapa padahal saya tidak merasa bahwa saya ‘bisa’ atau ‘istimewa’. Saya cuma manusia biasa saja kok. Manusia biasa yang kadang melihat yang tidak ingin saya lihat. Membuat saya wondering, yang kayak saya saja capek…apalagi kalau orang yang bisa lihat 24/7 ya? Yang all the time…anywhere. Hiii…

Tapi dalam islam tidak ada yang namanya hantu. Yang ada adalah jin yang mencoba menakuti manusia dengan berubah menjadi makhluk-makhluk tertentu.

Saya sempat berpikir (dan gembira) bahwa saya sudah nggak lihat yang aneh-aneh lagi. But i guess i was wrong. Iya, yang saya takutkan adalah momen di mana orang menganggap saya aneh atau jadi takut bareng-bareng saya. Ketika saya bilang penuh atau ramai tapi orang jadi takut karena di mata mereka sepi atau nggak penuh.

Well, actually saya sempat menikmati keadaan saya yang kadang bisa lihat. Dulu, waktu jaman kuliah karena di masa itu saya merasa tidak sendiri. Teman kuliah saya ada beberapa (bisa dibilang lumayan banyak sih) yang bisa lihat sesuatu yang tidak enak untuk dilihat, bahkan ada yang all the time anywhere. Di masa itu saya enjoy dengan keadaan saya yang seperti itu. Saya tidak perlu takut untuk bilang ke orang, “eh di lorong itu ada kunti nya ya?”, “kalau di gedung itu kuntinya merah ya”, “eh ada teletubbies (you know what i mean lah ya), “eh apa itu yang ijo-ijo?”, “nggak mau ke resto itu ah…banyak orbs nyah…”, dsb. Saya tidak perlu bingung untuk menjelaskan kenapa saya tidak mau ke rumah makan tertentu. Saya nggak perlu takut orang lain akan bilang, “nggak ada deee”. Buat saya, itu adalah masa-masa saya free.

Saya tidak tahu kapan hal-hal seperti itu dimulai. Tapi sedari saya kecil semua itu sudah dimulai. Paling enek adalah waktu kami tinggal di daerah sleman Jogja, di suatu rumah yang ayah saya sewa (baca: kontrak). Di sana selalu ada tiga teletubbies mengikuti saya dengan loncatan-loncatannya. Nyengir-nyengir dan nggak enak dilihat. Anak kecil upstairs (lantai atas rumah itu tapi di kosongkan karena udaranya pengap dan panas karena sebenarnya itu seperti bagian dari plafon) yang berisik dengan lariannya which is i’m the one who heard it saat itu 😑. Dan mimpi yang itu-itu saja selama keluarga saya ngontrak di rumah itu (mimpi halaman belakang rumah sebenarnya ada dua makam yang tidak diketahui orang lain). Entahlah, kenyataannya ada atau nggak pun saya nggak mau tahu, hehe.

Semakin lama saya semakin biasa. Tapi tetap saja, kaget dan deg-degan itu selalu ada. Takut-takut dikit itu pasti ada tapi pada akhirnya saya ingat Allah Maha Besar. Kalau pun ada ketakutan adalah ketakutan saya yang tidak bisa melindungi Kia. Yup, dulu waktu Kia batita, tidak sedikit kejadian Kia kaget dan lari ketakutan ke arah saya sambil bertanya tentang hal yang dia lihat. Saat itu saya tidak bisa lihat (maka dari itu saya berasumsi saya sudah tidak bisa lihat yang aneh lagi). Ketakutan saya adalah Kia jadi penakut dan merasa tidak aman maka saya berusaha untuk menenangkannya. Tidak apa-apa. Bahwa semua okay. Yang patut kita takuti hanya Allah. Takut kalau Allah nggak ridho sama kita. (Hehe…kejauhan banget nggak sih omongannya).

Sebenarnya ada banyak kejadian untuk diceritakan. Tapi malas juga ya ngetiknya 😅😁..ketawan deh saya ini pemalas. Tapi saya bukan anak indigo loh, saya bukan orang dengan sixth sense, saya orang biasa aja kok 😄. Kalau lagi lihat ya lihat…lagi enggak ya enggak…lagi ngerasa ya ngerasa…lagi engga ya engga. Nggak mau mengada-ada juga sih buat apa coba. Dapet duit juga engga, apalagi dapet surga 😁.

But, nanti in sya Allah saya mau nulis tentang seseorang with sixth sense selain melihat yang hal-hal yang tidak enak di lihat, yaitu ‘membaca’ diri kita. Bukan baca masa depan ya (itu mah ketentuan Allah). Yang di mana saya suka takut bertemu orang yang semacam bisa ‘baca’ diri saya 😅.

Sekian dulu ah. Kia sudah minta perhatian 😁😂.